Selasa, 13 Juni 2017

Aku dan Senja

Aku menatap kaca tebal yang memisahkanku dengan cahaya keemasan di ufuk barat. Mentari mulai pudar seolah ditelan katulistiwa yang membentang. Ada apakah antara aku dengan senja?

Jika kuingat, banyak kisah dan tragedi yang menyelimuti senjaku. Beberapa cerita yang terukir di hati. Pertemuan dan perpisahan beradu dalam keheningan senja ini.

Dia...
Datang menemuiku dikala sore hari. Tanpa canggung dia mengajaku bercengkerama...Dia, adalah pusat duniaku saat itu.

Dia...
Satu sosok yang dikirimkan oleh langit pada hari itu. Hingga aku tahu, aku mulai terjerat racun yang mematikan semua syarafku.. Aku jatuh cinta.

Andai saja waktu bisa terulang, aku tidak akan meratapi senja yang perlahan-lahan mulai memudar. Aku lupa kapan terakhir kali menikmati pancaran matahari sore yang menyelubungi kalbuku. Aku lupa... saat kita berpisah di jalan itu. 

Senja tidak lagi sama. Senja tidak lagi bercahaya. Senja seakan tidak istimewa. Senja dan dia meninggalkanku secara tidak manusiawi. 

Tapi, mengapa senja tetap indah walapun tidak istimewa?
Mengapa aku selalu tersenyum setiap melihat langit orange?

Ternyata aku begitu sederhana. Aku selalu berharap bertemu dia di bawah cahaya orange yang syahdu. Sekali lagi, sehingga aku bisa berkata..

"Aku masih disini, berdiri diam menunggumu kembali".

Aku dan senja, pertemuan dan perpisahan..
Aku dan Dia, satu harapan menjadi satu...yaitu Kita.

13 Juni 2017, dari senja yang memberikan memori indah di ujung perpisahan.

~DRK~

Minggu, 11 Juni 2017

Aku Dan Kopiku

Satu hal yang harus digaris bawahi adalah aku bukanlah ahli dalam kopi, dan apa yang aku tulis di blog ini adalah cerita dimana aku mulai mengenal kopi.
Darimana aku harus memulainya?
Mungkin dari sejak kapan aku mulai meminum cairan hitam nan pahit ini. Aku mulai ngopi sejak kelas 3 SMP dan yang aku minum adalah kopi sobek alias sachet.

Sesekali aku minum kopi asli atau kopi yang di Roasting (gaya sedikit) oleh ibuk. Pekat, hitam, dan pahit. Memasuki usia SMA aku masih setia dengan si sachet yang selalu menawarkan kepraktisan dan harga ekonomisnya (uang sakuku cuman cukup buat naik angkot).

Tapi semua berubah sejak negara api menyerang. Hehe..bercanda.

Saat itu awal tahun 2016 dan salah satu temanku mengirimkan pesan berantai lewat BBM kalau dia menjual biji kopi.. Biji Kopi, hal yang baru bagi penikmat kopi sachet sepertiku.

"Biji kopi? Mau ngopi saja kok pakai ribet".

Tapi komentarku di atas dimentahkan saat aku menonton film "Filosofi Kopi". Yes, ini film sangat menginspirasi, sehingga aku sadar ada sesuatu yang istimewa dari sekedar menyeruput secangkir kopi.

Akhirnya aku memesan satu kantong biji kopi (Saat itu yang tersisa tinggal Bali Kintamani). Aku adalah pendatang baru di dunia seduh-menyeduh, bahkan tidak mempunyai satupun alat untuk Manual Brew. Begitu kopi pesananku sudah ndongkrong di kamar, aku mulai bingung. Hasil dari kebingunganku adalah order satu Frech Press (ini adalah ketololan yang aku lakukan, seharusnya aku beli grinder kopinya dulu).

Tapi jujur deh, ada rasa berbeda saat kita biasa meminum kopi sachet dan mulai beralih ke biji kopi asli. Semua rasa tersebut mengahsilkan candu dan ketagihan level kronis (Sekarang, sehari tanpa ngopi rasanya hambar...). Memang awalnya ribet, kita harus tahu rasio, grind size kopi yang akan diseduh, cara kerja instrumen manual brew yang kita punya, tapi hasil yang didapatkan adalah sebuah KEPUASAN!! 

OK... Sampai sini dulu maslah kopinya, jika teman-teman punya ilmu tentang seduh-menyeduh tolong aku diajari

Bye.

Jumat, 09 Juni 2017

RUMAH

Dalam arti umum, RUMAH adalah salah satu bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu. (Wikipedia). Rumah adalah tempat berteduh dikala terik dan hujan. Rumah adalah tempat perlindungan bagi manusia yang hidup di dalamnya.

Hingga aku menyadari ada arti lain dari rumah, yaitu tempat untuk pulang dan berkeluh kesah. Rumah adalah sebuah tempat dimana kita melepas lelah, sebuah tempat dimana kita bisa mengangkat beban hidup dunia yang memeberatkan pundak. Tidak ada tempat seindah rumah.

Aku pernah merindu untuk pulang, walaupun rumahku sederhana. Bangunan dari batu bata yang tersusun rapi, atap yang mulai berlubang, cat yang pudar, dan lantai licin... Semua itu membuat hatiku merindu. Lalu apakah rumah sebatas bangunan?

Jawabanku adalah tidak!!. Bangunan persegi tersebut hanyalah representasi dari arti "Rumah" yang sebenarnya. Bagiku ada rumah yang lain, yaitu hatimu. Hatimu, dimana aku bisa pulang dan melampiaskan rindu yang menggebu. Andai kamu tahu, rindu ini begitu egois. Dia memaksa masuk dan menorehkan luka di hati. Andai kamu tahu, saat ini aku ingin pulang di hatimu, "rumahku".

Tapi....Apakah kamu mengijinkanku mengetuk pintu "rumah" tersebut?. Aku takut kamu membanting pintu tepat dihidungku, dan aku sangat takut "rumah" tersebut bukan untuku. Hanya satu harapanku, aku bisa pulang ke hatimu,"rumah" dimana tempatku mengadu dikala aku lelah.

Seperti halnya bangunan rumah yang asli, "Tidak Peduli Semewah Apapun Bangunannya, Bila Belum Bisa Membautmu Rindu Untuk Pulang Maka Belum Bisa Disebut Rumah". Maafkan atas semua keegoisanku.

10 Juni 2017, dari peminum kopi yang sedang merindukan "rumahnya" dimanapun dia berada.