Aku menatap kaca tebal yang memisahkanku dengan cahaya keemasan di ufuk barat. Mentari mulai pudar seolah ditelan katulistiwa yang membentang. Ada apakah antara aku dengan senja?
Jika kuingat, banyak kisah dan tragedi yang menyelimuti senjaku. Beberapa cerita yang terukir di hati. Pertemuan dan perpisahan beradu dalam keheningan senja ini.
Dia...
Datang menemuiku dikala sore hari. Tanpa canggung dia mengajaku bercengkerama...Dia, adalah pusat duniaku saat itu.
Dia...
Satu sosok yang dikirimkan oleh langit pada hari itu. Hingga aku tahu, aku mulai terjerat racun yang mematikan semua syarafku.. Aku jatuh cinta.
Andai saja waktu bisa terulang, aku tidak akan meratapi senja yang perlahan-lahan mulai memudar. Aku lupa kapan terakhir kali menikmati pancaran matahari sore yang menyelubungi kalbuku. Aku lupa... saat kita berpisah di jalan itu.
Senja tidak lagi sama. Senja tidak lagi bercahaya. Senja seakan tidak istimewa. Senja dan dia meninggalkanku secara tidak manusiawi.
Tapi, mengapa senja tetap indah walapun tidak istimewa?
Mengapa aku selalu tersenyum setiap melihat langit orange?
Ternyata aku begitu sederhana. Aku selalu berharap bertemu dia di bawah cahaya orange yang syahdu. Sekali lagi, sehingga aku bisa berkata..
"Aku masih disini, berdiri diam menunggumu kembali".
Aku dan senja, pertemuan dan perpisahan..
Aku dan Dia, satu harapan menjadi satu...yaitu Kita.
13 Juni 2017, dari senja yang memberikan memori indah di ujung perpisahan.
~DRK~


